Jadi Lokasi Terisolir, Masuk di Kampung Ini Harus Naik Turun Jurang
Info Ringan

Jadi Lokasi Terisolir, Masuk di Kampung Ini Harus Naik Turun Jurang

Kemalang, (Klaten.sorot.co)--Tak ada yang menyangka di tengah-tengah kemajuan zaman ini masih ada sebagian masyarakat yang belum bisa merasakan canggihnya teknologi. Hal itu lah yang dirasakan oleh masyarakat Dukuh Girpasang, Desa Tegalmulyo, Kecamatan Kemalang. Sebuah perkampungan yang ada di lereng Gunung Merapi itu hingga saat ini masih menyimpan banyak keunikan dibanding desa-desa lainnya.

Bahkan beberapa masyarakat menyebutkan perkampungan itu awalnya adalah tempat persembunyian masyarakat pribumi dari kejaran penjajah pada masa silam. Namun meski saat ini Negara Indonesia sudah merdeka dan terbebas dari para penjajah, sebagian masyarakat Girpasang masih memilih untuk menetap di perkampungan tersebut. Beragam kearifan lokal pun masih terjaga hingga saat ini.

Girpasang adalah sebuah perkampungan yang terdiri dari 12 kepala keluarga (KK). Bahkan kampung yang berjarak sekitar 4 kilometer dari puncak Gunung Merapi itu merupakan satu-satunya wilayah yang terpisah dan terisolasi dari perkampungan lainnya. Untuk memasuki wilayah itu masyarakat harus menempuh jarak kurang lebih 1,5 kilometer.

Namun untuk menempuh perjalanan itu hanya bisa dilakukan dengan berjalan kaki. Jurang yang curam setinggi 100 meter menjadi pintu gerbang untuk masuk ke kawasan Girpasang. Ditengah-tengah jurang itu terdapat sebuah anak tangga yang merupakan akses utama masyarakat untuk keluar masuk dari Girpasang menuju perkampungan lainnya.

"Kalau yang kami dengar awalnya ada tiga sesepuh yang tinggal disini, beliau itu adalah pelarian pada zaman penjajahan Belanda dulu. Sedangkan belasan KK yang tinggal disini merupakan anak cucu dari ketiga simbah tersebut," kata Kepala Desa Tegalmulyo, Sutarno.

Jalan setapak dari anak tangga itu terlihat seperti membelah jurang. Setelah menuruni anak tangga masyarakat akan dihadapkan dengan sebuah aliaran sungai yang terletak di dasar jurang. Bahkan, sesampainya di aliran sungai itu masyarakat akan kembali menaiki anak tangga lagi hingga menuju ke atas. Sebagian anak tangga terlihat sudah ada yang berpondasi dan sebagian masih dari tanah.

Sesampainya di kawasan perkampungan itu baru akan terlihat beberapa rumah yang ditinggali oleh masyarakat. Suasana yang tenang dan sederhana nampak jelas terasa di tengah-tengah 17 bangunan rumah yang ada di Dukuh Girpasang. Bahkan sejumlah kearifan lokal masih sangat dijaga oleh masyarakat sekitar. Salah satunya adalah tradisi pada hari tertentu.

"Kalau masyarakat disini ya mata pencahariannya adalah tani dan ternak. Untuk anak-anak juga tetap sekolah, namun letak sekolahan ada di wilayah sebelah. Jadi untuk berangkat dan pulang juga melewati jalan setapak itu. Sedangkan untuk aliran listrik saat ini sudah ada, tapi juga baru-baru ini," imbuhnya.

Sementara itu, salah seorang tokoh masyarakat Girpasang, Yoso Rejo (62) mengaku bahwa tinggal di kawasan ini sudah turun temurun. Disinggung menganai kekhawatiran masyarakat terkait dekatnya kampung Girpasang dengan puncak Merapi, Ia justru mengaku tidak menjadi persoalan. Terakhir masyarakat meninggalkan Girpasang saat terjadinya erupsi Merapi pada beberapa tahun lalu.

"Ya kita sebagai masyarakat percaya saja. Kemarin saat erupsi kita juga ngungsi tapi juga pulang pergi, karena hewan ternak kan ada di rumah," jelasnya.