Program Sergap Klaten Tertinggi Se-Karesidenan Surakarta
Ekonomi

Program Sergap Klaten Tertinggi Se-Karesidenan Surakarta

Klaten Utara (klaten.sorot.co)--Program serap gabah (sergap) Kabupaten Klaten tertinggi di Karesidenan Surakarta. Dari enam kabupaten/kota, baru Klaten yang melampaui target di atas 100%.

Hal itu diketahui saat monitoring dan evaluasi (monev) dari Tim Sergap Mabesad. Ketua Tim Sergap Mabesad untuk wilayah Kodam IV/Diponegoro Brigjen TNI Sudarto mengemukakan, monev sergap wilayah Solo Raya dilakukan sejak awal pekan ini. Monitoring mencakup pelaksanaan sergap, pengawasan, dan evaluasi pelaksanaan.

Beberapa daerah yang telah ditinjau yakni Solo, Sragen, Wonogiri, Gunungkidul dan Klaten.

Klaten sudah sangat bagus, untuk wilayah Solo Raya paling tinggi Klaten. Karena Klaten sudah capai 109%. Padahal ini baru pertengahan September, target kami sampai akhir Desember,” ujarnya saat ditemui di kantor Dinas Pertanian Ketahanan Pangan dan Perikanan (DPKPP) Klaten, Kamis (14/9).

Masing Kodim diberi target untuk program sergap. Kodim 0723/Klaten ditarget 35.35.367 ton gabah kering panen (GKP) pada 2017. Untuk saat ini capaian sergap Klaten sekitar 36.000 ton. Sudarto menyebutkan, untuk wilayah lain misal Wonogiri baru terealisasi 43,28% dan Sragen 71%.

Barang ada, tiap daerah surplus, tenaga akan menyerap SDM ada, harga pun sudah kami naikkan 10%. Jadi tiga variabel yang menentukan keberhasilan sudah terpenuhi semua tapi kok sampai sekarang belum (tercapai) kenapa? Itu menjadi bahan evaluasi,” tutur Sudarto.

Danramil 06/Kebonarum Kapten Inf Purwanto menambahkan, dari wilayah Kecamatan Klaten Selatan hingga saat ini sudah terserap 200 ton GKP. Dari penggilingan padi mitra Bulog di Desa Trunuh Kecamatan Klaten Selatan rata-rata tiap hari mampu menyetor 18 ton GKP ke gudang Bulog.

Sayangnya, memasuki musim kemarau setoran ke Bulog berkurang karena serapan dari petani mengalami penurunan.

Biasanya bisa dua truk tiap hari, tapi akhir-akhir ini hanya satu truk saja sekitar 9 ton. Memang pasokan berkurang karena luas tanam padi berkurang. Lahan lebih disewakan ke tembakau karena untuk padi butuh banyak air sedangkan musim seperti ini susah air,” paparnya.