Jadi Bupati, Mulyani  Menangis di Pendopo
Peristiwa

Jadi Bupati, Mulyani Menangis di Pendopo

Kota (klaten.sorot.co)--Bupati Klaten Sri Mulyani tak kuasa menahan tangis saat memberikan sambutan silaturahim di Pendopo Pemkab Klaten, Rabu (29/11). Silaturahim dihadiri Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkompinda), Organisasi Pemerintah Daerah (OPD), tokoh agama (toga), tokoh masyarakat (tomas), camat, kepala desa, lurah, Aparatur Sipil Negara (ASN), instansi swasta, dan lainnya.

Tangis Mulyani pecah ketika ia mengajak ASN dan pejabat publik untuk kerjasama membangun Klaten yang bersih dan bebas korupsi. Menurutnya, berbagai permasalahan seperti kemiskinan, narkoba, bencana alam, peningkatan kualitas pendidikan, iklim investasi, pemberdayaan perempuan, perbaikan infrastruktur mendesak untuk segera ditangani. Penanganan tersebut membutuhkan kerjasama semua pihak termasuk jajaran ASN.

Saya akan bekerja dan berkarya dengan amanah yang sejujur-jujurnya dan seadilnya-adilnya untuk mewujudkan Klaten maju mandiri dan berdaya saing. Sekali lagi saya mohon dukungan semuanya. Sri Mulyani ini bukan siapa-siapa, Mulyani ini hanya anaknya wong gunung,” ucapnya sembari terisak.

Ia tak menampik, kasus operasi tangkap tangan (OTT) bupati sebelumnya, Sri Hartini, menorehkan luka bagi masyarakat Klaten. Tingkat kepercayaan publik terhadap pemkab pun turun. Hal ini menjadi tugas besar bagi Mulyani untuk mengembalikan citra Klaten yang lebih baik. 

Karena peralihan kepemimpinan ini bukan hasil dari pilihan, ada sesuatu yang menimpa ibu bupati kemarin. Jadi saya harus melanjutkan menjadi Bupati Klaten dalam kondisi tidak enak. Bagi saya ini berat, harus membawa yang tidak enak menjadi enak. Namun ini adalah tanggungjawab yang harus saya selesaikan dengan baik dan selamat untuk membuktikan kita bisa bangkit dan berikan yang terbaik,” urai Mulyani.

Ditegaskan, ASN harus bersih dan transparan. Tidak memainkan anggaran pemerintah untuk kepentingan pribadi dan golongan. Mulyani meminta, aksi Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang turun ke Klaten pada akhir 2016 lalu menjadi evaluasi perbaikan kinerja pemerintah dan ASN.

Jangan berani main dengan anggaran pemerintah dan anggaran APBD. Karena satu sen uang yang dinikmati tanpa prosedur yang ada, itu ada pertanggungjawabannya. Apa yang terjadi itu kita tutup dan buka lembaran baru. Mari ASN bekerja sebaik-baiknya. Jangan sampai kita neko-neko lagi. Jangan sampai ada kotak-kotak lagi,” tandasnya.