FKUB Diminta Jaga Netralitas di Tahun Politik
Politik

FKUB Diminta Jaga Netralitas di Tahun Politik

Kota (klaten.sorot.co)--Dua tahun berturut-turut akan menjadi tahun politik di provinsi Jawa Tengah (Jateng), yakni Pilgub 2018 dan Pemilu Serentak 2019. Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) diminta untuk menjaga netralitas selama tahun politik tersebut.

Ketua FKUB Jateng Mudjahirin Thohir mengemukakan, tahun politik rawan terjadi ketegangan sosial dan konflik. Maka FKUB sebagai wadah lintas agama memiliki peran sejak dini untuk berpartisipasi mewujudkan pesta demokrasi yang sukses dan terhindar konflik yang mengatasnamakan agama.

Mudjahirin meminta, FKUB kabupaten/kota koordinasi dengan pemerintah daerah dan stakeholder terkait agar memiliki pengetahuan dan keterampilan mengenai konflik. Baik mempelajari sumber-sumber munculnya konflik dan cara atau resolusi konflik.

Maka kami dari FKUB itu harus mengambil peran proaktif dengan cara menetralisasi, mengantisipasi terhadap kemungkinan konflik yang ditarik-tarik ke ranah agama. FKUB harus netral, jangan berpihak ke ranah kandidat manapun,” kata Mudjahirin dalam rapat koordinasi FKUB se-Solo Raya di Pendopo Pemkab Klaten, Kamis (7/12).

Guru Besar Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro (UNDIP) itu menuturkan, agama merupakan isu sensitif saat pilkada, pilpres maupun pileg. Agama memiliki daya letup luar biasa sehingga sangat rentan ditarik untuk kepentingan tertentu selama tahun politik. Hal ini didukung kemajuan teknologi informasi yang tak bisa dibendung, khususnya media sosial (medsos). 

Dicontohkan, kasus pilkada Jakarta melahirkan sejumlah efek yang luarbiasa bahkan sempat menjadi kegaduhan nasional yang tak berkesudahan. Mudjahirin tidak mau hal serupa terjadi di Jawa Tengah.

Kasus (pilkada) Jakarta itu mengerikan. Tapi pada sisi yang lain itu dianggap menjadi inspirator. Maka gaya Jakarta itu akan disebarluaskan ke daerah-daerah lain. Caranya bagaimana? Ya bisa lewat medsos. Jika lewat medsos, sedangkan paham kita tentang agama tidak dalam, termasuk agama lain enggak paham maka akan dengan sangat mudah mengoyak kerukunan kita,” tegasnya.

Ketua FKUB Klaten Syamsuddin Asyrofi menambahkan, pesta demokrasi baik pilkada, pilgub, pilpres, pileg adalah hal biasa dan harus disikapi dengan cara-cara yang bijak. Perlu ditumbuhkan kesadaran di masyarakat bahwa dalam kontestasi ada yang menang dan kalah.

Sebaiknya terkait pilkada, hal-hal berbau agama tidak ditarik-tarik untuk sebuah kepentingan sempit. Karena itu sebenarnya merugikan agama dan menjadi polarisasi di masyarakat,” ucapnya.