Surat Paksaan untuk Memilih Kandidat Kades Tijayan Berujung ke Jalur Hukum
Peristiwa

Surat Paksaan untuk Memilih Kandidat Kades Tijayan Berujung ke Jalur Hukum

Manisrenggo, (klaten.sorot.co)--Beredarnya surat keputusan untuk memilih calon Kepala Desa (Kades) Tijayan, Kecamatan Manisrenggo berbuntut panjang. Erma Elianti Yusninda (20) warga Dukuh Jomboran desa setempat bakal membawa kasus tersebut ke jalur hukum. Bahkan hingga kini Ia sudah menyerahkan hal ini kepada kuasa hukumnya.

 

"Untuk hal ini proses hukum tetap berlanjut, ini belum selesai. Saya sudah menunjuk kuasa hukum pada kemarin untuk mendampingi saya," ujar Erma Elianti Yusninda (20) saat ditemui di kediamannya Dukuh Jomboran, Desa Tijayan, Kecamatan Manisrenggo, Selasa (09/01/2018).

  

Pihaknya mengakui bahwa penunjukan kuasa hukum merupakan tindak lanjut dari adanya kekecewaan kepada masyarakat, sikap yang mengarah pada pengucilan dari warga terhadap keluarganya. Diduga hal tersebut bisa terjadi berkaitan dengan adanya surat keputusan warga sebelum pelaksanaan Pilkades serentak bulan Juli 2017 lalu.

Surat keputusan tersebut berisi tentang paksaan kepada warga Desa Jomboran untuk memilih calon Kades yang disepakati. Dari dua calon yang mendaftar yakni Joko Lasono dan Agus Pribadi, masyarakat setempat sepakat untuk memilih Joko Lasono. Kesepakatan dituangkan dalam surat keputusan tertanggal 8 Juli 2017.

Dalam surat yang ditandatangani oleh ketua RW 001, Semiyanto ; ketua RT 001, Parno ; RT 002, Mugiyono ; RT 003, Junaidi dan ketua pemuda setempat, Daswadi, menerangkan bakal memberi sanksi kepada warga yang membelot. Sanksinya berupa ancaman tidak akan mendatangi atau membantu warga hajatan, dan tidak akan membantu ketika terkena musibah.

"Merasa sudah dikucilkan. Kita seperti tidak dianggap warga. Semoga hal ini juga tidak terjadi di daerah lain," kata dia.

Pihaknya menjelaskan tuduhan di jalur hukum ini Ia layangkan kepada sejumlah orang yang telah tanda tangan di surat keputusan warga tersebut. Mulai dari Ketua RW, RT dan juga ketua pemuda.

Sementara itu, ayah Erma, Maryadi (53) membenarkan sikap masyarakat yang dilakukan kepada keluarganya. Bahkan, sebelum kasus ini menjadi ramai, Ia pernah mencoba meminta maaf kepada masyarakat dalam sebuah forum, namun ternyata permintaan maaf justru tidak ditanggapi oleh masyarakat yang hadir disitu.

"Karena merasa dikucilkan maka saya mencoba minta maaf kalau ada salah, kalau anak saya ada salah di kampung. Tapi ya tidak ditanggapi," jelasnya.