Kades Tijayan Ngaku Tak Tahu Menahu Soal Surat Paksaan Hak Pilih Warga Terhadap Dirinya
Peristiwa

Kades Tijayan Ngaku Tak Tahu Menahu Soal Surat Paksaan Hak Pilih Warga Terhadap Dirinya

Manisrenggo, (klaten.sorot.co)--Kades Tijayan, Joko Lasono mengaku tidak tahu menahu soal surat keputusan yang dibuat warga Dukuh Jomboran untuk memilih dirinya dalam pelaksanaan Pilkades tahun 2017 lalu. Ia mengaku surat tersebut dibuat secara kesepakatan dan pribadi oleh warga tanpa sepengetahuan dirinya.

"Kalau soal surat itu (surat keputusan warga Jomboran) saya tidak tahu menahu. Karena memang itu bukan dari saya," ujar Kades Tijayan, Kecamatan Manisrenggo, Joko Lasono.

Pihaknya menjelaskan, pelaksanaan Pilkades sudah berakhir cukup lama, sedangkan surat tersebut baru saja muncul baru-baru ini. Dirinya berharap, dengan munculnya surat itu hingga membuat ramai media sosial, tidak mengganggu ketentraman masyarakat sekitar. Upaya mediasi dianggap langkah yang tepat untuk mengatasi permasalahan ini. 

"Jika ada perbedaan pada saat pelaksanaan Pilkades itu biasa. Tapi apabila sudah berakhir harus jadi satu lagi. Jangan sampai ada perpecahan, karena semua ini warga saya," imbuhnya.

Seperti yang diketahui, surat keputusan warga Dukuh Jomboran muncul dan viral di medsos setalah diunggah oleh, Erma Elianti Yusninda (20). Erma yang merupakan warga Dukuh Jomboran mengaku telah mendapat perlakuan kurang baik dari masyarakat sekitar. Selama setengah tahun terakhir ini Ia merasa dikucilkan oleh warga.

Surat keputusan tersebut berisi tentang paksaan kepada warga Dukuh Jomboran untuk memilih calon Kades yang disepakati. Dari dua calon yang mendaftar yakni Joko Lasono dan Agus Pribadi, masyarakat setempat sepakat untuk memilih Joko Lasono. Kesepakatan dituangkan dalam surat keputusan tertanggal 8 Juli 2017.

Dalam surat yang ditandatangani oleh ketua RW 001, Semiyanto ; ketua RT 001, Parno ; RT 002, Mugiyono ; RT 003, Junaidi dan ketua pemuda, Daswadi, menerangkan bakal memberi sanksi kepada warga yang membelot. Sanksinya berupa ancaman tidak akan membantu warga yang ada hajatan, dan tidak akan membantu ketika terkena musibah.

"Kami upayakan mediasi. Kemarin kami kumpulkan warga dan Mbak Erma untuk mencari kebenarannya. Tapi sayangnya Ia (mbak Erma) tidak datang. Silahkan dicek kepada masyarakat sekitar, bisa ditanyakan juga seperti apa," pungkas dia.