Kisah Menarik Dibalik Polwan Klaten yang Jadi Ratu Kerajaan
Budaya

Kisah Menarik Dibalik Polwan Klaten yang Jadi Ratu Kerajaan

Klaten,(klaten.sorot.co)--Berbagai upaya terus dilakukan untuk kembali mengangkat kesenian budaya tradisional Ketoprak di Kabupaten Klaten. Proses perkenalan budaya itu kepada masyarakat masa kini pun dituangkan dalam goresan baru. Salah satunya yakni para pemeran Ketoprak yang tidak hanya dari kalangan seniman handal, melainkan menggandeng semua pihak.

Uniknya, upaya perkenalan Ketoprak ini juga dilakukan dari kalangan kepolisian. Ia adalah Kasubag Humas Polres Klaten, AKP Aliyah Fatma Nugroho. Disela-sela tugas sebagai pengayom masyarakat dan menyebarkan informasi kepolisian, Polwan yang satu ini tanpa sungkan tampil diatas panggung berperan sebagai tokoh yang bertolak belakang dengan rutinitas sehari-harinya.

Pengalaman tak terlupakan sepanjang ia bertugas menjadi polisi yakni saat terlibat dalam pagaleran Ketoprak Wartawan pada awal Maret 2018 lalu. Tak terbesit sedikitpun dalam benaknya untuk bisa tampil pada gelaran budaya yang baru pertama dijalani. Dalam Ketoprak dengan lakon Mustikaning Senopati Majapahit itu ia didapuk menjadi Ratu Kencono Wungu.

Peran ratu disebuah kerajaan memaksanya untuk berdialog cukup lama. Hampir separuh pertunjukan tokoh Ratu Kencono Wungu tak pernah lepas dari percakapan, entah saat berdialog dengan abdi kerajaan maupun dengan tokoh musuh Minak Jinggo Adipati Blambangan. Ia harus baradu akting dengan pemeran lain yang sudah terbiasa menggunakan Bahasa Jawa.

"Rasanya menghafal naskah itu melebihi ujian skripsi. Naskah selalu saya bawa kemana-mana, disela bertugas saya bawa, saat sudah dirumah dan mau tidur pun juga saya bawa. Memang tidak mudah menghafal itu, sampai gladi bersih pun saya juga belum hafal," kata dia saat berbincang dengan sorot.co.

Meski tak banyak masyarakat yang tahu akan hal itu, namun peran sertanya tidak bisa dianggap sebelah mata. Butuh waktu dan tenaga untuk mendalami peran. Bahasa sehari-hari yang diucapkannya pun harus diganti saat berada diatas panggung. Ia dipaksa untuk berdialog menggunakan bahasa Jawa yang digunakan dalam pagelaran ketoprak. 

Hal itulah yang dianggapnya tantangan terbesar dalam memerankan tokoh ketoprak. Meski lahir di Klaten, namun tugas polisi yang lama menetap di Kabupaten Sukabumi membuatnya harus melakukan latihan ekstra saat mengucapkan bahasa Jawa. Bahkan, ia mengaku butuh waktu satu bulan untuk mendalami karakter yang diperankannya itu.

"Sebetulnya bukan tidak bisa bahasa Jawa, tapi memang itu jarang saya ucapkan sehari-hari. Karena sudah 14 tahun di Sukabumi, jadi logatnya sudah logat sana, kadang pakai bahasa Indonesia kadang Sunda. Makanya ini tantangan cukup besar yang harus dicoba," kata dia.

Hasilnya, saat pertama melakukan latihan dan penentuan tokoh, AKP Aliyah justru diberi kesempatan oleh sang sutradara untuk menjadi ratu. Dari situlah peran sertanya dalam mengangkat kesenian budaya ketoprak dimulai. Ia yang biasa mengenakan pakaian dinas disertai perlengkapan polisi harus berganti menggunakan pakaian khas jawa.

Saya juga tidak menyangka, saat pertama dites suara dan baca naskah ternyata cocok jadi ratu. Rasanya bangga, bisa pakai kostum yang bukan pakaian saya sehari-hari. Senang bisa kumpul dengan rekan-rekan seniman, bisa nambah saudara,” ujarnya yang juga pernah meraih medali emas dalam Beladiri Judo se-Jawa - Nusra.

Dengan adanya keterlibatan polisi dalam kegiatan kebudayaan, Ia berharap Ketoprak bisa lebih diminati oleh semua masyarakat. Ia juga mengaku hal ini merupakan salah satu upaya menguri-uri budaya yang sudah mulai banyak ditinggalkan. Ia mengajak masyarakat terutama generasi muda agar kembali bangga dengan kearifan lokal Indonesia.

"Polisi memang harus dekat dengan masyarakat. Selain keterlibatan dalam ketoprak ini merupakan perintah dari atasan, namun secara pribadi ketoprak harus kembali kita kenalkan," pungkasnya.