Serunya Saat Warga Keturunan Tionghoa dan Atlet Juara Dunia Main Ketoprak
Budaya

Serunya Saat Warga Keturunan Tionghoa dan Atlet Juara Dunia Main Ketoprak

Klaten, (klaten.sorot.co)--Pagelaran ketoprak merupakan salah satu kesenian pentas drama tradisional yang berasal dari tanah Jawa. Selama ini gelaran tersebut biasa dimainkan oleh warga asli Jawa dengan mengenakan pakaian khas Jawa. Namun bagaimana jadinya jika ketoprak ini diperankan oleh warga keturunan Tionghoa.

Hal itulah yang benar-benar terjadi di Kabupaten Klaten, pada Sabtu (10/03) malam tadi. Puluhan warga keturunan Tionghoa bersatu diatas panggung utuk memainkan ketoprak dengan Lakon Rebut Kuwasa. Gelaran ini merupakan racikan sutradara Bondan Nusantara. Dari total 50 pemain, 90 % diperankan oleh warga keturunan Tionghoa.

Namun ada yang cukup mengundang perhatian dalam gelaran ketoprak kali ini. Bagi pecinta bulutangkis era- 1980 dan 1990 mungkin tidak asing dengan juara dunia bulutangkis dari Tiongkok, Huang Hua. Ia yang merupakan mantan musuh bebuyutan atlit bulutangkis dari Indonesia, Susi Susanti itu pernah meraih Piala Uber 1990 dan 1992.

Nostalgia Huang Hua ini tidak terjadi di atas lapangan bulutangkis, melainkan diatas panggung gelaran ketoprak. Dengan dibalut kebaya putih dan kain jarik coklat, Huang Hua justru tampil memukau dengan bahasa campuran Jawa, Indonesia dan Mandarin. Tak pelak, ia justru menjadi pusat perhatian dan mengundang tawa para penonton.

"Tidak ada kesulitan yang dihadapi, santai saja. Untuk persiapan dalam pentas ini dilakukan selama tiga bulan," kata Huang Hua usai pentas dari atas panggung Sabtu malam.

 

Ia kini sudah menjadi warga negara dan menetap di Indonesia. Setelah menikah dengan salah satu pengusaha asal Klaten, Tjandra Budi Darmawan pada tahun 1993 silam, Huang Hua kini memiliki kesibukan menjadi ibu rumah tangga. Ia juga berharap warga keturunan Tionghoa bisa lebih membaur dengan masyarakat Jawa.

"Saya berharap dengan adanya hal ini warga Tionghoa bisa menyatu dengan warga disini. Meski sudah tinggal disini, tapi untuk percakapan sehari-hari saya pakai bahasa campur-campur, karena suami saya juga bisa bahasa Mandarin," ujarnya.

Gelaran ketoprak pada malam tadi juga sekaligus mengukuhkan kembali Perkumpulan Darma Bakti (PDB) di Kabupaten. Sebuah perkumpulan yang terdiri dari warga keturunan ini kembali muncul setelah sekian lama vakum. Ada tiga bidang yang mereka angkat dalam perkumpulan ini yakni di bidang sosial, kedukaan, dan kesenian.

"PDB ini kan sudah lama tidur, makanya untuk kembali mengangkat perkumpulan ini kami buka dengan ketoprak. Kami sebagai warga keturunan Tionghoa di Klaten siap membaur dengan warga Kabupaten Klaten," kata salah satu pengurus PDB Klaten, Tjandra Budi Darmawan.

Ia menuturkan saat ini ada sekitar 400-an warga etnis Tionghoa yang tergabung dalam perkumpulan itu. Dirinya berharap dengan kembali berdirinya perkumpulan ini bisa diikuti oleh warga keturunan yang ada di daerah lain. Pihaknya ingin menyampaikan bahwa warga keturunan Tionghoa juga bisa berbaur dan ingin menjadi masyarakat biasa di Indonesia ini.