Cerita Warga Puncak Merapi Ketika Gumpalan Abu Vulkanik Terbang di Atas Rumah
Peristiwa

Cerita Warga Puncak Merapi Ketika Gumpalan Abu Vulkanik Terbang di Atas Rumah

Kemalang, (klaten.sorot.co)—Aktifitas sehari-hari warga yang bermukim di kaki Gunung Merapi tepatnya Dukuh Bangan, Desa Sidorejo, Kecamatan Kemalang mendadak terhenti pada, Jumat (11/05/2018) pagi. Warga yang mayoritas berprofesi sebagai petani dan ternak itu tiba-tiba mengalihkan pandangannya ke arah puncak gunung yang berjarak kurang lebih 4 kilometer.

Suara gemuruh disertai angin mendadak dirasakan oleh warga sekitar. Gunung Merapi yang biasa telihat indah dan seakan selalu menemani aktifitas masyarakat tiba-tiba mengeluarkan gumpalan asap tebal sekitar pukul 07.40 WIB tadi. Tak terbesit sedikitpun dalam benak mereka menyaksikan pemandangan tersebut di tengah-tengah padatnya aktifitas di pagi hari.

Salah seorang warga sekitar, Sri Murtini menceritakan dirinya yang setiap pagi menjemur kopi di tepi jalan itu langsung terhenti ketika merasakan hembusan angin disertai getaran menerpa lingkungan sekitar. Secara spontan, pandangan mata Sri Murtini segera tertuju pada puncak Gunung Merapi. Tanpa disangka-sangka, gumpalan asap berwarna putih telah membumbung tinggi ke langit.

Tidak ada tanda-tanda, rumah langsung bergetar. Setelah itu saya melihat keluar dan ternyata puncak gunung sudah ada prempul-prempul seperti abu,” kata dia saat ditemui di kediamannya, Jumat siang.

Perasaan panik mulai menyelimutinya. Bahkan gumpalan asap yang semakin tinggi seakan membuatnya bersama warga lain ingin bergegas turun untuk mencari lokasi aman. Suasana riuh mulai terjadi, sebagian warga yang awalnya tengah mencari rumput di sekitaran puncak Merapi satu per satu juga mulai berlarian turun. 

Warga yang mencari rumput di kebun langsung pada turun. Kita juga sempat panik dan ikut berlarian,” imbuhnya.

Tidak sampai disitu, selang beberapa menit kemudian tiba-tiba abu vulkanik yang muncul dari puncak Gunung Merapi mulai beterbangan. Perasaan pasrah semakin menyelimuti seluruh warga. Sebagian warga yang berfikir bakal terjadi hujan abu ternyata sedikit lega. Gumpalan abu vulkanik hanya melintas tepat diatas rumah mereka.

Padahal saya sudah menjemur kopi, kami warga disini juga merasa akan ada hujan abu. Tapi untungnya, abu itu terbang terbawa angin dan melintas diatas rumah kami,” ungkap dia.

Setelah ketegangan terjadi beberapa menit, warga mendapat informasi bahwa erupsi kali ini tidak berbahaya. Warga yang sebelumnya panik lantas satu per satu mulai kembali ke rumah masing-masing. Suara gemuruh yang ditimbulkan Gunung Merapi pun telah berhenti. Aktifitas masyarakat sudah kembali normal meski masih diselimuti perasaan was-was.

Ya untuk saat ini sudah normal, warga sudah tenang dan bekerja lagi. Yang penting tetap waspada saja,” pungkasnya sembari menggelar kembali jemuran biji kopi.