Kabar Duka, Seniman Kondang Suhardjija Pudjanadi Tutup Usia
Peristiwa

Kabar Duka, Seniman Kondang Suhardjija Pudjanadi Tutup Usia

Klaten,(klaten.sorot.co)--Kabar duka datang dari kalangan seni rupa di Indonesia. Salah satu seniman kondang cukil kayu yakni Suhardjija Pudjanadi asal Ngingas Baru, Bareng Lor, Kecamatan Klaten Utara tutup usia, Minggu (08/07) kemarin. Prosesi pemakaman dilakukan Senin (09/07/2018) siang.

Seniman yang akrab disapa Hardjija itu meninggal dunia pada usia 79 tahun di RSUP dr. Soeradji Tirtonegoro Klaten lantaran menderita penyakit sroke. Menantu mendiang Hardjija, Puji Hastuti mengaku bahwa sebelum dibawa ke rumah sakit, Hardjija masih terlihat biasa. Bahkan pada Selasa (03/07) malam Hardjija masih sempat minta dibuatkan mie instan.

Selasa malam minta mie rebus, saya buatkan dan dimakan sampai habis. Lalu pada Rabu paginya sarapan bubur disuapin juga sampai habis. Setelah itu simbah istirahat siang,” ujar Puji di rumah duka.

Selepas itu, Puji kemudian membangunkan Hardjija pada siang hari lantaran sudah memasuki jadwal untuk minum obat. Namun entah kenapa Hardjija justru tidak merespon dan masih terbaring. Merasa khawatir dengan kondisi orang tuanya itu, pihak keluarga lantas membawa Hardjija ke RSUP dr. Soeradji Tirtonegoro Klaten. 

Sempat dirawat di rumah sakit beberapa hari. Namun ternyata Yang Kuasa berkehendak lain, simbah dinyatakan meninggal dunia pada Minggu kemarin. Untuk prosesi pemakaman dilakukan pada Senin pukul 13.00 WIB,” imbuhnya.

Puji mengaku, penyakit yang diderita Hardjija sudah dialami sejak tahun 2011. Namun ia menceritakan, saat terkena penyakit stroke pertama Hardjija masih sempat melukis dan mengikuti pameran di Solo. Hardjija baru berhenti melakukan aktifitasnya itu setelah penyakit yang diderita kambuh pada tahun 2015 silam.

Tahun 2013 itu penyakitnya kambuh lagi, lalu sudah tidak bepergian lagi ke luar kota. Setelah kambuh lagi pada tahun 2015 simbah sudah tidak melukis lagi. Beliau hanya bisa terbaring di kasur, namun terkadang juga masih sering mengukir kayu sesekali,” jelasnya.

Sementara itu, putra mendiang Hardjija, Arga Gitadi menceritakan, semasa hidup ayahandanya merupakan salah satu seniman lukis dengan mengusung idealisme tinggi. Dimana pada saat sejumlah seniman lain mulai beralih untuk mengikuti perkembangan zaman, Hardjija tetap mengutamakan pendiriannya.

Bapak itu idealismenya tinggi. Karya lukisannya selalu menggambarkan kehidupan masyarakat yang kerakyatan. Beliau tidak pernah bergeming saat seniman lain berlaih ke zaman sekarang. Beliau sempat bilang lukisannya dilihat orang saja sudah senang, ora payu yo ra popo,” jelasnya.

Beberapa hasil karya Hardjija sudah banyak diminati oleh kalangan pejabat. Terakhir kali hasil lukisannya diborong oleh Wakil Ketua DPR RI, Fadli Zon beberapa bulan lalu. Sedikitnya ada lima hasil lukisan yang dibawa Fadli Zon. Hampir keseluruhan lukisan yang dibawa adalah bertemakan kerakyatan.

Salah satu cita-cita bapak yang belum terlaksana adalah membuat pameran tunggal. Rencananya jika ada sisa lukisan yang masih bagus ya kita akan mencoba mewujudkan itu,” urai dia.