Kirab Budaya Lereng Merapi Tandai Tradisi Bersih Desa Jiwan
Budaya

Kirab Budaya Lereng Merapi Tandai Tradisi Bersih Desa Jiwan

Karangnongko, (klaten.sorot.co)-- Sebanyak 20 kontingen dari masing-masing rukun warga (RW) Desa Jiwan, Kecamatan Karangnongko turun ke jalan untuk memeriahkan tradisi kirab budaya Lereng Merapi, Sabtu (28/07/2018). Kirab Lereng Merapi ini merupakan salah satu upaya masyarakat sebagai bentuk wujud syukur atas hasil bumi selama ini.

Kirab budaya diikuti ribuan warga dengan menampilkan beragam kreatifitas. Arak-arakan pertama merupakan dua gunungan hasil bumi yang disebut gunungan Kakung dan Putri. Gunungan Kakung berisi hasil panen warga setempat berupa buah-buahan dan sayuran, sementara Gunungan Putri berisi beragam jajanan pasar.

Sedangkan diurutan kedua terdapat iring-iringan bergodo pakaian adat kejawen dan disusul dengan sejumlah pertunjukan budaya dari masing-masing kontingen. Menariknya kirab ini tidak hanya mengangkat krearifan lokal, melainkan juga mempertunjukkan indahnya keberagaman Indonesia antara satu sama lain.

"Kirab ini diikuti 20 kontingen dari perwakilan RW dan RT Desa Jiwan. Namun ada juga tim penggembira yang ikut serta, sehingga animo masyarakat sangat luar biasa," ujar Koordinator Kirab Budaya Lereng Merapi, Rochmad Paiman.

Dirinya mengaku, dipilihnya Lereng Merapi sebagai tema kirab kali ini lantaran Desa Jiwan merupakan salah satu wilayah yang berada di bawah Gunung Merapi. Sehingga, banyaknya kearifan lokal yang terpendam perlu diangkat dan diperkenalkan kembali kepada generasi muda, terutama kesenian warisan leluhur. 

"Disini adalah wilayah Lereng Merapi. Jarang dikenal masyarakat luas, padahal ada seni khas yang disebut Tari Kuda. Maka dari itu kami ingin kenalkan sekaligus menjadi wujud syukur kami atas hasil bumi," jelasnya.

Sementara itu, Tim Kreatif Kirab Budaya, Sarno Eklik Sudibyo menambahkan, jarak tempuh dalam kirab kali ini kurang lebih 1,5 kilometer. Masing-masing kontingen berjalan dan diminta unjuk kebolehan di depan dewan juri serta panggung tamu undangan. Penilaian dilihat dari segi kreatifitas dan makna yang diusung.

"Kita tidak menentukan tema, yang penting adalah kreatifnya. Seperti apa visualisasi yang ditampilkan. Yang pasti kita ingin menguri-uri budaya untuk menyatukan masyarakat khususnya di tanah jawa," jelasnya.

Dijelaskan, puncak acara dilanjutkan malam nanti dengan pertunjukan wayang kulit. Dua gunungan tersebut akan dibagikan, Gunungan Kakung diberikan untuk seluruh personel wayang kulit, sementara Gunungan Putri diperebutkan masyarakat. Hal itu dilakukan sebagai upaya nguri-uri budaya.

"Harapan kami potensi desa bisa terangkat. Karena memang disini masih belum memiliki potensi seperti desa-desa lain yang sudah berjalan dan terkenal," kata dia.