Hasil Tak Maksimal, Petani Tembakau Lesu
Sosial

Hasil Tak Maksimal, Petani Tembakau Lesu

Prambanan, (klaten.sorot.co)-- Sejumlah petani tembakau di Kabupaten Klaten dilanda perasaan khawatir untuk menanam tembakau. Hal itu disebabkan lantaran buruknya hasil panen tembakau dalam kurun waktu tiga tahun terakhir ini. Akibatnya, beberapa petani terpaksa beralih ke palawija.

Salah satu petani tembakau di Kecamatan Prambanan, Lasimen (61) mengaku, kehancuran hasil panen tembakau terjadi sejak tahun 2015, 2016 dan 2017. Hasil tembakau tidak sesuai harapan dengan contoh banyak yang membusuk. Sehingga harga jual ke sejumlah perusahaan mengalami anjlok.

"Banyak yang kehabisan modal karena sudah dilanda kerugian selama tiga tahun berturut-turut. Tahun 2017 hasilnya hancur, 2015-2016 kurang berhasil dan akibatnya merosot," ujarnya, Minggu (05/08/2018) sore.

Pada tahun lalu salah satu penyebab yang dihadapi adalah cuaca yang kurang bersahabat, sehingga menjadikan panen tembakau masuk kelas D. Tembakau jenis bligon dengan kelas itu hanya Rp 80 ribu per kilogram. Berbanding jauh dengan panen sebelum-sebelumnya yang menghasilkan tembakau kelas F. 

"Musim terbaik tembakau terjadi pada 2011 lalu karena kualitasnya bisa mencapai kelas F. Saat itu harganya bisa mencapai Rp 180 ribu per kilogram," imbuhnya.

Atas kondisi tersebut, lanjut dia, banyak petani yang mengurungkan niatnya untuk menanam kembali tembakau. Bahkan, kini hampir 60% petani belum berani menanam tembakau pada musim ini. Mereka memilih menanam palawija dan tanaman lain sembari menunggu musim tembakau selanjutnya.

"Pabrik yang selama ini menjadi mitra para petani tembakau tidak mau membeli dengan harga standar apabila kualitasnya tidak terpenuhi. Maka sebaiknya ini kita lihat dulu panen musim ini bagaimana," jelasnya.

Hal serupa juga dialami oleh petani asal Desa Kebondalem Lor, Kecamatan Prambanan, Gito (50). Banyak petani mulai beralih ke tanaman lain. Terbukti, dari ratusan hektar lahan yang ada di Desa Kebondalem Lor hanya ada 20 hektar tanaman tembakau. Jumlah itu menurun jika dibanding tahun sebelumnya sekitar 80 hektar.

"Kasusnya sama, kita tidak mau ambil resiko. Untuk musim ini ya biarkan ada yang menanam tapi kemungkinan tidak banyak seperti biasanya," pungkas dia.