Kurangi Risiko Bencana, Puluhan Difabel Klaten Disiapkan Jadi Fasilitator
Pemerintahan

Kurangi Risiko Bencana, Puluhan Difabel Klaten Disiapkan Jadi Fasilitator

Klaten, (klaten.sorot.co)-- Berbagai upaya terus dilakukan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Klaten guna mengurangi risiko bencana. Kali ini upaya tersebut melibatkan kaum disabilitas. Sebanyak 25 difabel dilatih dan disiapkan untuk menjadi fasilitator bagi disabilitas lainnya yang tersebar di Kabupaten Klaten.

Kabid Pencegahan dan Kesiapsiagaan, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Klaten, Nur Tjahjono mengatakan, 25 difabel itu merupakan relawan penanggulangan bencana dari Unit Layanan Disabilitas (ULD) BPBD. Mereka diberi beragam pelatihan mulai dari cara menjadi fasilitator, teknik evakuasi dan materi penyelamatan.

"Bagaimana cara penyampaian dan penguasaan materi yang baik, kita ajarkan dan diberi pelatihan. Tidak hanya itu, 25 relawan difabel tersebut juga kita latih agar menguasai cara pertolongan pertama bagi difabel sesuai kemampuan," ujarnya, Kamis (09/08/2018).

Nantinya, lanjut Nur, sebanyak 25 relawan dari kaum difabel yang sudah dilatih ini akan menjadi fasilitator dan pendampingan penanggulangan bencana. Mereka akan masuk ke sekolah luar biasa (SLB) dan seluruh desa-desa agar mampu mengajak seluruh difabel yang ada di Klaten paham dengan kebencanaan. 

"Nanti outputnya mereka akan masuk ke SLB sebagai pendamping pengurangan resiko bencana. Karena apa? Untuk memberi pemahaman kepada kaum difabel itu ya memang harus dari relawan difabel, maka dari itu kita harus melibatkan semua elemen," jelasnya.

Di Kabupaten Klaten saat ini ada sekitar 11.582 difabel. Dari jumlah tersebut ada sekitar 200 difabel yang tinggal di kawasan rawan bencana (KRB) III Gunung Merapi meliputi Desa Balerante, Tegalmulyo dan Sidorejo, Kecamatan Kemalang. Sehingga, ia mengaku bahwa pelatihan terhadap relawan difabel dianggap sangat penting.

"Kita ingin mewujudkan pembangunan yang inklusif. Nah jika dari belasan ribu warga itu belum menguasai kebencanaan artinya pembangunan kita tidak seimbang. Masih ada kelompok yang belum tersentuh," jelasnya.

Pihaknya menyampaikan, dalam penanggulangan bencana perlu ada penanganan khusus bagi kaum difabel. Misalnya jika terjadi bencana gempa bumi atau erupsi Merapi, perlu ada penanganan berbeda bagi difabel antara yang tuna netra dengan tuna rungu. Terutama dalam memberikan informasi kepada mereka.

"Butuh karakter yang berbeda. Butuh keahlian khusus bagi para relawan dalam penanganan. Jadi memang perlu dilakukan oleh relawan difabel, karena mereka yang paham. Nanti kita tinggal menunggu instruksi dari situ," jelasnya.

Diharapkan dengan adanya upaya ini, pengurangan resiko bencana terutama bagi kaum difabel bisa berjalan. Pasalnya, Kabupaten Klaten merupakan salah satu daerah yang masuk rawan bencana. Butuh perhatian dari semua pihak untuk peduli dengan masyarakat disabilitas.