Begini Skenario Evakuasi Apabila Terjadi Erupsi Gunung Merapi
Peristiwa

Begini Skenario Evakuasi Apabila Terjadi Erupsi Gunung Merapi

Kemalang, (klaten.sorot.co)--Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Klaten mulai menentukan skenario apabila sewaktu-waktu Gunung Merapi mengalami erupsi. Dalam skenario awal, masyarakat di Kawasan Rawan Bencana (KRB) III harus turun ketika terjadi peningkatan status menjadi level siaga.

Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Klaten, Yuwono Haris mengatakan, skenario awal adalah apabila terjadi peningkatan status Merapi, masyarakat di KRB III harus dievakuasi. Pola evakuasi sesuai dengan sistem desa paseduluran yang sudah dipetakan sebelumnya. Hal itu sesuai dengan Peraturan Bupati Klaten.

Sesuai amanat Perbup Klaten No. 7 tahun 2014 tentang penanganan kebencanaan, masyarakat harus sudah turun ketika naik menjadi level siaga. Tidak harus menunggu status awas,” ujarnya, Kamis (06/09/2018).

KRB III merupakan desa yang berdekatan dengan puncak Merapi yakni Desa Balerante, Tegalmulyo, dan Sidorejo, Kecamatan Kemalang. Pola evakuasi yang diterapkan adalah warga di Desa Balerante mengungsi di shelter Kebondalem Lor (Prambanan), Desa Tegalmulyo mengungsi di shelter Demak Ijo (Karangnongko), dan Desa Sidorejo mengungsi di shelter Menden (Kebonarum). 

Lebih lanjut Haris menjelaskan, ada dua skenario dalam melakukan evakuasi masyarakat dan hewan ternaknya. Skenario pertama adalah, begitu ada peningkatan status masyarakat terlebih dahulu dievakuasi sesuai dengan penempatan shleternya, kemudian disusul dengan evakuasi hewan ternak yang dimilki masyarakat.

Untuk skenario kedua adalah dibalik, bisa ternak dulu kemudian orangnya. Tinggal nanti kami menyesuaikan keinginan warga seperti apa, yang pasti bisa kita terima dan pahami secara logis,” jelasnya.

Skenario lain adalah armada untuk mengevakuasi ternak. Ada dua pilihan, yakni bisa menggunakan armada milik warga atau menggunakan milik pemerintah. Yang pasti, lanjut Haris, penempatan hewan ternak dan pemiliknya tidak akan terpisah jauh dari tempat pengungsian masing-masing sebab semua sudah dipersiapkan.

Data yang diperoleh, jumlah warga di Desa Tegalmulyo mencapai 2.243 jiwa, sementara di Desa Sidorejo mencapai 4.460 jiwa dan Desa Balerante sekitar 2.033 jiwa. Sehingga apabila masing-masing shelter tidak mencukupi jumlah warga itu, pihaknya akan menyiapkan barak pengungsian lain yang berdekatan.

Jika tidak cukup akan dicarikan barak pengungsian menggunakan tempat fasilitas umum, yang jelas lokasinya tetap tidak jauh dari masing-masing shleter yang sudah ditentukan. Sementara untuk warga yang menggunakan armadanya untuk evakuasi, nanti bahan bakar akan kita ganti,” urai dia.

Diharapkan dengan adanya penentuan skenario pengungsian ini mampu mengurangi dampak bencana. Meski diakui nanti pada saat pelaksanannya akan terjadi hambatan, namun setidaknya upaya yang dilakukan ini mampu menekan rasa gugup dan panik saat terjadi erupsi.