Merti Desa di Sendang Simbar Joyo, Ratusan Warga Makan Nasi Bungkus Daun Pisang
Budaya

Merti Desa di Sendang Simbar Joyo, Ratusan Warga Makan Nasi Bungkus Daun Pisang

Klaten,(klaten.sorot.co)--Sinar matahari terasa begitu menyengat di sepanjang jalan Desa Jonggrangan, Kecamatan Klaten Utara, pada Jumat (14/09/2018). Namun hal ini justru tidak menyurutkan antusiasme ratusan warga yang hadir dari berbagai wilayah untuk menyaksikan kirab gunungan palawija.

Kirab gunungan yang merupakan puncak acara tradisi Merti Desa ini digelar selepas Shalat Jumat. Dua gunungan berupa nasi gurih dan hasil palawija diarak oleh masyarakat dari balai desa setempat menuju area Sendang Simbar Joyo dengan jarak 500 meter. Setibanya di pelataran sendang, terlihat ratusan warga sudah menanti.

Dua gunungan itu lantas diserahkan kepada panitia pelaksana untuk dibacakan doa. Usai doa berakhir, seluruh warga langsung menyerbu gunungan palawija. Seluruh warga dipersilahkan memperebutkan isi gunungan itu. Tak hanya dari kalangan orang tua, seluruh anak-anak dan remaja juga ikut berdesak-desakan.

Saya datang kesini untuk ikut memperebutkan isi gunungan, karena dipercayai hasil gunungan ini memiliki berkah tersendiri. Rencananya hasil yang saya peroleh ini untuk ditanam agar hasil panen bagus,” ujar salah seorang warga, Triyani (45).

Tak hanya itu, begitu gunungan sudah ludes, ratusan warga dipersilahkan menikmati gunungan nasi gurih yang sebelumnya sudah diarak. Berbeda dengan gunungan palawija, pihak panitia mengatur warga agar tertib dalam menikmati gunungan nasi gurih. Pemandangan sumber mata air menjadi teman untuk menikmati hidangan yang terbungkus daun pisang ini. 

Sembari menikmati makanan tradisonal, warga juga dihibur dengan pagelaran musik gamelan. Seakan tak memperdulikan segala perbedaan, seluruh warga tumpah ruah menjadi satu dalam gelaran ini. Mereka yang berpangkat maupun petani menjadi satu menikmati hidangan di tepi sendang.

Kepala Desa Jonggrangan, Sunarno menjelaskan tradisi ini sebagai wujud syukur masyarakat atas berkah dan limpahan hasil pertanian yang selama ini didapat. Tidak hanya itu, tradisi ini juga merupakan tradisi turun temurun yang dipercayai mampu membawa kebaikan terhadap masyarakat sekitar.

Ini sebagai upaya mempererat tali silaturahmi antar warga Jonggrangan. Kenapa kita lakukan di sini? Karena ini adalah peninggalan nenek moyang. Kita sebagai generasi penerus wajib menguri-uri budaya itu,” jelasnya.

Ia mengaku, tradisi ini digelar setiap tahun tepatnya pada Jumat pertama di bulan Suro. Sebelum dilakukan tradisi ini, warga terlebih dahulu sudah melakukan bersih-bersih desa dan sendang. Tujuannya, lanjut Sunarno, sebagai wujud syukur atas melimpahnya sumber mata air yang muncul di Sendang Simbar Joyo.

Semoga tradisi ini bisa terus dilestarikan oleh anak cucu kita. Jangan sampai budaya yang kita miliki menjadi punah, karena apapun itu semua tidak lepas dari peran sejarah,” pungkasnya.