Menjelajah Masa Lalu Melalui Ratusan Radio Jadul Koleksi Sutrisno
Gaya Hidup

Menjelajah Masa Lalu Melalui Ratusan Radio Jadul Koleksi Sutrisno

Jatinom,(klaten.sorot.co)--Lantunan tembang-tembang kenangan era 60-an hingga 70-an terdengar merdu di ruang tamu milik Sutrisno di Kampung Tijayan, Kelurahan/Kecamatan Jatinom. Sembari bernostalgia dan bersantai di masa tua, Sutrisno nampak sibuk membersihkan debu-debu yang menempel pada sejumlah radio miliknya.

Suasana syahdu sangat terasa begitu memasuki ruang tamu rumah Sutrisno, di sisi kanan kiri kursi tamunya terlihat dua radio transistor yang masih gagah. Tidak hanya itu, di samping salah satu radio itu nampak pula sebuah TV tabung hitam putih kelurahan tahun 60-an. Pada bagian dinding, sebuah jam dinding kuno turut menghiasi isi ruang tamunya.

Memasuki ruang tengah, nampak sebuah almari tua berdiri di sudut ruangan. Almari berukuran kurang lebih 2 X 3 meter itu digunakan sebagai tempat penyimpanan radio tua koleksi Sutrisno. Tak tanggung-tanggung, sekitar 300 radio keluaran tahun 1950 hingga 1960 dengan beragam merek ternama zaman dahulu telah terkumpul.

Meski usianya sudah tua, namun dari sekian banyak radio kuno itu daya suaranya masih terdengar nyaring hingga saat ini. Dengan jari-jari yang sudah mulai mengeriput, Sutrisno sesekali disibukkan dengan memutar setiap tunning radionya untuk mencari gelombang. Hal itu rutin ia lakukan untuk menjaga kondisi radio agar tetap awet.

"Saat ini tinggal 300-an radio yang masih terkumpul. Jenis dan mereknya juga beragama, mulai dari Ralin, Phillips, hingga, Tjawang," ujar Sutrisno saat dijumpai di kediamannya, Jumat (14/9).

Kegemarannya mengoleksi radio kuno dilakukan sejak tahun 2005. Pada saat itu, ia yang masih bertugas sebagai anggota kepolisian juga selalu rutin berburu radio di setiap waktu senggangnya. Radio itu ia beli dan dikumpulkan dari rekan-rekannya yang berada di Solo dan Yogyakarta. Harganya pun masih terbilang murah kisaran Rp 100-200 ribu. 

Memasuki purna tugas tepatnya tahun 2010, jumlah koleksi radio yang terkumpul sudah mencapai ratusan. Sampai-sampai almari yang digunakan untuk menyimpan barang kuno ini tak mencukupi dan ia pun terpaksa memindahkan radio tuanya ke dalam gudang. Memasuki tahun itu, radio yang sudah ia kumpulkan mulai diburu oleh para kolektor.

"Ternyata dari tahun ke tahun banyak yang mencari, akhirnya bagi yang berminat ya saya lepas. Bahkan dulu sempat ada kolektor dari Yogyakarta datang untuk membeli banyak radio jenis tabung," imbuh pria berusia 66 tahun ini sembari mengingat masa-masa kebahagiaan saat berburu radio.

Tak hanya radio, Sutrisno juga menyimpan beragam barang-barang antik keluaran sebelum kemerdekaan hingga tahun 1960-an. Salah satunya adalah kaset piringan hitam, ada sekitar 350 an piringan hitam yang terkumpul dan masih berfungsi dengan baik. Lagu-lagu yang dikoleksi pun beragam, mulai dari lagu Lilis Karlina hingga Bing Slamet.

"Piringan hitam ini menjadi salah satu cara saya untuk bernostalgia, karena memang lagu-lagunya mengingatkan saya dengan zaman dahulu. Banyak lagu bersejarah yang masih menyala hingga saat ini," kata ayah tiga orang anak itu.

Saat sorot.co diajak mengunjungi gudang milik Sutrisno, sungguh mengejutkan. Berbagai barang antik tertata memenuhi sudut gudang. Bahkan, dari sekian banyak koleksi yang ia punya terdapat sejumlah kamera besi jaman dahulu. Bak harta karun bagi pecinta fotografi, berbagai kamera bersejarah ia simpan dalam sebuah almari tersendiri.

Di sela-sela ia membereskan radio yang bertumpukan, Sutrisno mengaku kegemarannya ini merupakan turun temurun dari ayahandanya, Gito Darsono. Sutrisno menceritakan kisah ayahnya yang merupakan pedagang era 1962-an. Pada saat itu, radio pertama yang dimiliki adalah radio berbentuk tabung dengan daya menggunakan baterai 75 biji.

"Dulu radio yang dimiliki ayah saya selalu digunakan warga sebagai satu-satunya sumber informasi dan hiburan. Itu adalah cara ayah saya untuk menyenangkan warga sekitar. Maka saya ingin meneruskan hal itu, saya ingin mengenang beliau melalui ini," pungkas Sutrisno.