Sakralnya Ritual Pernikahan Air dan Tanah di Delanggu
Budaya

Sakralnya Ritual Pernikahan Air dan Tanah di Delanggu

Delanggu,(klaten.sorot.co)--Ratusan masyarakat duduk bersila di sepanjang jalan Desa Delanggu, Kecamatan Delanggu, Selasa (09/10/2018) malam. Mereka tampak antusias menyaksikan pagelaran wayang kampung sebelah yang didalangi oleh Ki Jlitheng Suparman.

Pagelaran wayang itu bukan hanya sekedar hiburan, melainkan bagian dari ritual resepsi pernikahan antara Bagus Tirto dengan Roro Ayu Siti Pertiwi. Sebelumnya, kedua pasangan tersebut sudah melangsungkan ritual siraman dan akad nikah, pada Senin (08/10) di Padepokan Puser Jagad.

Namun ada yang unik, Bagus Tirto bukanlah seorang manusia berjenis kelamin laki-laki. Bagus Tirto merupakan air yang diambil dari Sumber Mata Air Umbul Kemanten, Desa Sidowayah, Kecamatan Polanharjo. Dalam ritual itu, Bagus Tirto dimasukkan kedalam kendi berkalung bunga melati.

Sementara Roro Ayu Siti Pertiwi juga bukanlah seorang perempuan, melainkan merupakan perwujudan tanah yang diambil dari Delanggu. Sama halnya Bagus Tirto, Roro Ayu Siti Pertiwi juga dimasukkan kedalam kendi berkalung bunga melati. Kedua pasangan kendi itu dipajang di samping panggung.

Penyelanggara pernikahan, Agung Bakar mengatakan ritual pernikahan Bagus Tirto dengan Roro Ayu Siti Pertiwi dilakukan layaknya pernikahan pada umumnya. Keduanya melakukan akad nikah yang diawali dengan doa, selepas itu prosesi diwarnai dengan pagelaran seni tari, olah vokal, hingga mocopatan.

"Malam ini kita gelar syukuran atas berlangsungnya pernikahan Bagus Tirto dengan Roro Ayu Siti Pertiwi sebelumnya. Ini sebuah karya seni kejadian yang kita buat untuk membawa kebaikan," ujarnya Selasa malam.

Usai melangsungkan resepsi, Roro Ayu Siti Pertiwi akan langsung diboyong oleh Bagus Tirto ke Desa Sidowayah, atau tempat dimana sumber air tersebut diambil. Prosesi tersebut juga merupakan serangkaian terakhir dalam ritual pernikahan ini. Untuk langkah selanjutnya masih belum bisa dijelaskan. 

"Kenapa harus ada pernikahan. Secara filosofisi, Tirto itu air, sementara air adalah karakter laki-laki. Sedangkan Siti itu adalah tanah, yang identik dengan karakter perempuan. Maka ya kita nikahkan, dalam bentuk event kebudayaan," urai dia.

Agung mengaku, makna yang ingin diambil dari ritual ini sebagai ucapan syukur atas alam yang ada. Diharapkan, dengan bersatunya dua alam antara air dan tanah ini mampu membawa berkah tersendiri bagi masyarakat Desa Sidowayah dengan Delanggu. Mengingat kedua wilayah itu saling berkaitan.

"Di Sidowayah itu ada sumber mata air yang melimpah, airnya mengalir sampai ke Delanggu. Sementara di Delanggu, terkenal dengan beras Rojo Lele. Semoga air semakin melimpah lagi, dan hasil panen di Delanggu lebih baik," jelasnya.

Sementara itu, salah satu tokoh masyarakat Desa Sidowayah, Hapsoro menyampaikan ritual ini merupakan upaya pelestarian budaya. Sebab, selama prosesi pernikahan berlangsung selalu diwarnai dengan pentas seni dan budaya. Sehingga ia berharap ketika air dan tanah menyatu, akan membawa kebaikan.

"Kami berharap air di desa kami terus mengalir, dan juga hasil pertanian di Delanggu semakin berkualitas. Keduanya saling berkaitan, semoga kedepannya semakin baik lagi," pungkas dia.