Mengering Parah, Sendang Tirto Sinongko Tak Keluar Air Sedikit pun
Wisata

Mengering Parah, Sendang Tirto Sinongko Tak Keluar Air Sedikit pun

Ceper,(klaten.sorot.co)--Sumber mata air yang ada di Sendang Tirto Sinongko, Desa Pokak, Kecamatan Ceper mengalami kekeringan sejak beberapa bulan terakhir ini. Kekeringan kali ini dianggap paling parah lantaran setetes air pun tak keluar dari sumber mata air tersebut.

Berdasarkan pantauan di lokasi, ada tiga kolam di area sendang tersebut. Kolam sisi barat merupakan kolam alami yang disebut Sendang Lanang, sementara kolam bagian timur disebut Sendang Wadon. Di tengah-tengah dua kolam alami itu, terdapat waduk buatan seluas 1,5 hektare.

"Semua kolam kering tidak ada air yang keluar. Terutama di dua kolam alami itu, padahal biasanya ada sumber air yang keluar. Tapi kali ini justru kering," ujar salah seorang warga sekitar, Widodo saat ditemui, Kamis (01/11/2018).

Menurutnya, kekeringan tahun ini dianggap paling parah. Sebab, tidak ada sedikitpun air yang muncul di kolam itu. Dari tiga kolam, hanya satu yang masih menyimpan air. Itupun air sisa dari musim hujan. Kondisinya juga keruh dan terbilang dangkal dengan kedalaman setengah meter. 

Selama ini, lanjut Widodo, ketiga kolam memiliki manfaat yang berbeda. Sendang Lanang dan Wadon biasa digunakan untuk berenang dan mencukupi kebutuhan rumah tangga, sementara waduk buatan dimanfaatkan sebagai wisata becak bebek-bebekan dan tempat pemancingan.

"Yang paling parah dialami pada waduk buatan, sebab karena kering kolam tidak bisa digunakan untuk mancing. Sedangkan becak bebek juga tidak bisa beroperasi," imbuh dia.

Hal senada juga disampaikan salah satu perangkat Desa Pokak, Kecamatan Ceper, Aditomo. Menurutnya, kekeringan kali ini dianggap paling parah. Sejak puluhan tahun sumber mata air tak pernah surut, pada musim kemarau saat ini justru sama sekali tdak mengeluarkan air sedikitpun.

Akibatnya, lanjut dia, lahan pertanian yang selama ini bergantung pada Sendang Tirto Sinongko terancam kering. Sedikitnya ada tiga desa dengan luas lahan pertanian padi 15 hektare yang memanfaatkan sumber mata air itu. Para petani terpaksa harus merogoh kantong lebih untuk membuat sumur bor.

"Ya terpaksa harus membuat sumur bor, atau pantek. Petani membuat secara mandiri dengan biaya rata-rata Rp 500-600 ribu. Karena memang di sendang ini sudah tidak ada air yang keluar, harus nunggu hujan," urai dia.

Guna mengantisipasi kekeringan yang berkepanjangan, rencananya pemerintah desa setempat akan membuat sumur artetis pada tahun 2019. Biaya untuk membuat sumur tersebut terbilang cukup banyak. Dari perkiraan awal, biaya pembuatan mencapai Rp 100 juta. Termasuk untuk mencari sumber air.

"Solusi untuk kekeringan ya dengan sumur itu. Karena jika musim kemarau sumur akan terus keluar air. Tidak bisa kering," kata dia.