Banyak Kasus Bayi Meninggal di Klaten
Sosial

Banyak Kasus Bayi Meninggal di Klaten

Klaten,(klaten.sorot.co)--Dinas Kesehatan (Dinkes) Klaten meminta kepada pemerintah desa agar dapat mengalokasikan dana dasa kepada Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu). Hal itu disampaikan menyusul banyaknya kasus bayi yang baru saja lahir namun meninggal dunia lantaran kekurangan asupan gizi.

Berdasarkan data yang diperoleh dari Dinkes Klaten, bayi lahir yang meninggal dunia di tahun 2018 ini mencapai 122 kasus. Dari jumlah tersebut, hampir separuhnya disebabkan oleh minimnya asupan gizi. Terbukti, rata-rata bayi lahir yang meninggal dunia hanya memiliki berat badan kurang dari 2,5 kilogram.

Salah satu penyebabnya justru kurang asupan gizi pada perempuan, terutama saat menginjak remaja. Mereka kebiasaan makan makanan yang kurang seimbang. Padahal mereka adalah calon ibu,” kata Kabid Kesehatan Masyarakat Dinkes Klaten, Sri Sundari dalam acara Temu Kader Posyandu di Gor Klaten, Rabu (05/12/2018).

Menurutnya, asupan gizi pada masa remaja sangat berpengaruh ketika kaum perempuan memasuki masa kehamilan. Ia memandang hal itu masih sangat kurang dipahami oleh perempuan saat ini, kebanyakan dari mereka merasa kalau memasuki masa remaja masih bebas untuk mengkonsumsi apapun. 

Padahal itu salah. Justru disitulan kondisi kesehatan mereka ditentukan. Seharusnya mereka sudah mulai paham, karena untuk jangka panjang orang yang kurang asupan gizi itu berbahaya. Apalagi untuk janin nanti,” imbuhnya.

Dikatakan, saat ini jumlah Posyandu di Kabupaten Klaten mencapai 2.668 unit. Hanya saja fokus dalam program Posyandu tersebut masih untuk layanan kesehatan balita. Hampir sebagian Posyandu belum bisa memaksimalkan program pemberdayaan perempuan remaja lantaran belum ada perhatian dari desa.

Oleh sebab itu, pihaknya mengaku saat ini Pemerintah Desa harus sudah mulai sadar akan pentingnya kesehatan masyarakat. Dengan adanya kucuran dana desa dari pemerintah, seharusnya bisa dialokasikan untuk program Posyandu. Sebab melalaui Posyandu itulah perempuan remaja akan terpantau.

Jika perlu, harus dibuatkan Posyandu dengan kader perempuan remaja. Nanti mereka bisa diedukasi banyak hal, seperti kesehatan reproduksi perempuan dan literalisasi kesehatan,” pungkasnya.