Mengenal Sejarah Dibalik Berdirinya Prasasti Upit di Kahuman
Budaya

Mengenal Sejarah Dibalik Berdirinya Prasasti Upit di Kahuman

Ngawen,(klaten.sorot.co)--Desa Kahuman, Kecamatan Ngawen terletak di tepi Jalan Jatinom- Klaten. Dibalik jalan lintas provinsi tersebut, terdapat sebuah bangunan yang hingga kini masih dalam proses pengerjaan. Bangunannya hampir menyerupai candi.

Di atas bangunan berbentuk candi itu tampak berdiri sebuah panggung berlantai batu. Akses jalan menuju panggung tersebut adalah jembatan berbentuk melengkung. Memasuki lebih dalam di atas panggung itu terdapat sebuah batu yang disebut-sebut sebagai replika Prasasti Upit.

Menurut cerita yang berkembang, Upit adalah sebuah nama perkampungan pada zaman kerajaan Mataram Kuno. Perkampungan Upit dahulu kala terdiri dua wilayah yang kini sudah berubah nama menjadi Desa Kahuman dan Desa Ngawen. Bahkan perkampungan Upit disebut-sebut sudah ada sejak Tahun Saka 788.

"Dulu pernah ditemukan sebuah prasasati di Desa Kahuman. Ada tulisan aksara Jawa kuno. Saat ini prasasti sudah diamankan di BPCB," kata seorang warga sekitar, Agus Fuad, Selasa (05/02/2019).

Hanya saja, lanjut Agus sampai saat ini masih belum diketahui secara pasti kejelasan sejarah itu. Sebab, menurut prasasti, sempat dijelaskan perkampungan Upit adalah tanah perdikan pada zaman kerajaan. Namun ia berpendapat jika dilihat dari prasasti, usia perkampungan Upit sudah mencapi 1.152 tahun. 

"Kalau dari usia sudah jelas sangat tua ini jika dibanding usia Kabupaten Klaten. Tapi kami juga belum tahu secara pasti, makanya masih harus mengumpulkan sesepuh sini untuk mencari data," imbuh dia.

Sebagai pertanda, perkampungan Upit sudah dibangun sebuah replika prasasti. Sembari menunggu pembangunan replika, sejumlah masyarakat masih mencari data yang pasti untuk menghubungkan prasasti dengan cikal bakal perkampungan Upit.

Sementara itu, Kepala Desa Kahuman, Didik Joko Sucipto mengaku masih memperdalam sejarah dibalik temuan prasasti tersebut. Kedepan, pihaknya akan segera mengumpulkan sejumlah kalangan mulai dari akademisi, sejarawan dan warga sekitar untuk menggali lebih dalam.

"Perlu ada musyawarah dan menyamakan sejarah. Maka akan segera kita kumpulkan, karena ini bisa menjadi ikon baru dengan tema budaya dan sejarah," pungkasya.