Butuh Wadah, Klaten Perlu Miliki Pasar Khusus Durian
Ekonomi

Butuh Wadah, Klaten Perlu Miliki Pasar Khusus Durian

Jatinom,(klaten.sorot.co)--Kabupaten Klaten merupkan salah satu daerah penghasil buah durian. Kendati demikian, sampai saat ini masih belum ada tempat khusus bagi sejumlah pedagang maupun petani untuk dapat menjajakan hasil produksi durian meraka secara maksimal.

Hal itu yang disampaikan oleh salah seorang pedagang durian di Kecamatan Jatinom, Rumi (30), Menurutnya, Klaten adalah satu kabupaten dengan penghasil durian cukup banyak. Hanya saja selama ini masih banyak petani yang belum bisa menjual hasil panen mereka dengan baik.

Selama ini, selain hanya menjual durian secara mandiri di sekitar rumah. Kebanyakan petani juga memilih untuk menjual kepada pedagang di pasar. Padahal, lanjut Rumi, hasil panen durian khas Klaten bisa disebar luaskan apabila memiliki tempat khusus atau pasar tersendiri.

Kalau selama ini kan durian yang khas ya di Desa Randulanang, Kecamatan Jatinom. Tapi kan lokasi desanya jauh dari perkotaan, jarang yang tahu juga,” kata dia, Sabtu (09/02/2019).

Oleh sebab itu, dirinya berharap pemerintah bisa menyediakan tempat khusus untuk menjual durian. Sebagai contoh adalah mendirikan pasar durian. Terkait lokasinya, ia tidak menuntut harus berada di perkotaan. Hanya saja, dengan adanya pasar khsusu tersebut masyarakat akan lebih kenal. 

Tidak harus di kota, jika memang pasarnya di desa ya tidak apa-apa. Tapi setidaknya khusus untuk menjual durian, jadi jika ada warga yang ingin mencari durian ya bisa langsung ke pasar, tidak menyebar di sepanjang jalan,” urai dia.

Hal senada juga dikatakan oleh petani durian, Sarmini (48). Selama ini waktu panen durian biasa berlangsung pada bulan November hingga Februari. Artinya, dengan keberadaan pasar tersebut bisa menampung petani durian untuk meraup untung, termasuk petani durian dari kecamatan lain.

Memang durian lokal itu memiliki khas yang unik, jadi warga yang suka durian pasti akan mencari yang benar-benar segar. Dan itu datangnya dari petani, jika petani disediakan tempat saya rasa kan lebih makmur,” jelasnya yang selama ini menjual durian di sepanjang jalan Desa Randulanang.

Selama musim panen, ia mampu menjual durian sekitar 50 biji dalam sehari. Tekait harga durian beragam mulai dari Rp 30 ribu – 80 ribu, tergantung ukuran dan rasa. Sebab, selama ini ia berani memberi garansi kepada pembeli apabila rasa durian itu tidak enak.

Kalau makan disini bisa dicicipi dulu, jika rasanya tidak enak ya boleh diganti. Nah yang seperti ini kan tidak berlaku di pedagang lainnya, maka jika ada pasar jelas akan semakin ramai,” urai dia.

Berdasarkan data yang diperoleh, jumlah KK di Desa Randulanang mencapai 975 KK. Sementara hampir setiap rumah rata-rata memiliki pohon durian sebanyak 3-5 pohon. Selain Jatinom, sentra durian lain juga berada di kecamatan Karangnongko dan Manisrenggo.

Camat Manisrenggo, Wagiyo Gambir mengatakan sedikitnya ada empat desa yang menghasilkan durian. Meliputi Desa Kepurun, Sapen, Ngemplak Seneng, dan Leseh. Dari jumlah tersebut, rata-rata total luas tana, durian mencapai 30 hektar.

Kalau ditempat kami memang hasil durian kurang maksimal. Maka butuh inovasi lain agar warga bisa mengolah, salah satunya sebagai campuran dawet maupun makanan khas lainnya. Ini masih butuh pelatihan lagi,” pungkasnya.