Terisolasi, Warga Girpasang Usulkan Pembangunan Kereta Gantung
Peristiwa

Terisolasi, Warga Girpasang Usulkan Pembangunan Kereta Gantung

Kemalang,(klaten.sorot.co)--Masyarakat Dukuh Girpasang, Desa Tegalmulyo, Kecamatan Kemalang, mengusulkan pendirian kereta gantung sebagai akses masuk ke wilayah tersebut. Hal tersebut diusulkan lantaran perkampungan di lereng Gunung Merapi itu jadi wilayah terisolir.

Kepala Desa Tegalmulyo, Sutarno mengatakan, usulan pembuatan kereta gantung sudah disampaikan kepada Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Klaten beberapa waktu lalu. Masyarakat berkeinginan memiliki akses jalan yang sama dengan perkampungan lain.

Awalnya ingin ada jembatan gantung, tapi ternyata biaya untuk membuat itu sangat besar. Maka diusulkan kereta gantung yang bisa dilewati orang, ujarnya, Selasa (16/04/2019).

Lebih lanjut disampaikan, lokasi Dukuh Girpasang berjarak 4 kilometer dari puncak Merapi. Bahkan lokasinya diapit jurang yang curam dengan ketinggian kurang lebih 150 meter. Untuk masuk ke perkampungan itu, satu-satunya akses jalan harus melewati anak tangga dengan naik dan turun jurang. 

Memang selama ini akses utama hanya mengandalkan ribuan anak tangga untuk aktivitas sehari-hari. Kalau mau sekolah atau kerja ya harus lewat jalan itu, imbuhnya.

Sementara untuk mengangkut barang yang keluar masuk di perkampungan itu, masyarakat mengandalkan jembatan khusus yang berasal dari seling baja. Saban hari jembatan seling digunakan untuk mengangkut pakan ternak, hasil pertanian, dan kebutuhan warga setempat.

Sehingga, lanjut dia, dengan adanya kereta gantung yang membentang melewati jurang maka bisa terhubung dengan perkampungan disebelahnya. Ia berharap usulan tersebut bisa terealisasi agar dapat memudahkan akses masyarakat, terlebih lagi lokasinya juga dekat dengan Merapi.

Kita inginnya semacam ada kereta gantung yang memudahkan akses warga Girpasang ke dusun seberang. Kalau diukur kira-kira panjangnya 180 meter, dan melewati jurang setinggi 150 meter, jelasnya.

Berdasarkan data yang diperoleh, Dukuh Girpasang berdiri kurang lebih 9 rumah yang terdiri dari 12 Kepala Keluarga (KK) dan 37 jiwa. Mereka mayoritas bermata pencahariaan sebagai petani dan ternak, seperti sapi serta kambing.