Revitalisasi Rowo Jombor Dimulai, Semua Aktivitas Berhenti Dulu
Klaten,(klaten.sorot.co)--Revitalisasi Rowo Jombor di Desa Krakitan, Kecamatan Bayat akan dilaksanakan pada Juli 2021. Pelaku usaha diberi waktu satu bulan untuk segera membongkar dan mengosongkan area rowo dari segala bentuk kegiatan pemanfaatan ekonomi.
Rowo Jombor dimanfaatkan masyarakat untuk mengais rezeki. Di area rowo sedikitnya terdapat 17 warung apung,137 pedagang kaki lima (PKL), 2.500 karamba ikan, 46 perahu, dan pemancingan. Selama revitalisasi, semua kegiatan tersebut harus dihentikan terlebih dahulu.
Sebelumnya Pemkab Klaten sudah menggelar sosialisasi antara BBWS Bengawan Solo dan Pemprov Jawa Tengah bersama sejumlah masyarakat yang selama ini memanfatkan Rowo Jombor. Dalam sosialisasi itu, pelaku usaha diberi waktu untuk hingga 16 Juli untuk pengosongan.
Bupati Klaten, Sri Mulyani mengatakan revitalisasi Rowo Jombor tersebut untuk mengambalikan fungsi utama kawasan rowo sebagai irigasi dan pengendalian air. Tak hanya itu, dalam revitalisasi nanti juga akan ada pengembangan potensi dan penataan rowo.
Dalam revitalisasi nanti Rowo Jombor akan ditata lebih rapi. Karena juga akan dilengkapi wahana yang menarik, ujarnya, Jumat (18/06/2021).
Anggaran yang disiapkan untuk revitalisasi itu senilai Rp 50 miliar bersumber dari APBN. Setelah sebelumnya dibangun taman kuliner, pengerjaan selanjutnya adalah penguatan bendungan, fasilitas pedestrian jogging track, dan penataan lingkungan di area Rowo Jombor. 
Dari hasil sosialisasi, pelaku usaha tidak serta merta langsung diminta berhenti sebelum revitalisasi dimulai. Para pelaku usaha masih diberi waktu untuk memindahkan semua usahanya secara bertahap, termasuk meminggirkan alat- alat yang ada di area rowo.
Sementara itu Ketua Kelompok Budi Daya Ikan Rowo Jombor, Slamet Riyadi keberatan dengan batas waktu pengosongan rowo itu. Sebab saat ini 70 persen karamba masih digunakan untuk budidaya ikan. Bibit ikan sudah terlanjur ditebar dan belum masuk usia panen.
Kemungkinan panen masih 3 bulan lagi. Terus nasib kita bagaimana kalau hanya diberi waktu 1 bulan. Sudah dihitung, kalau panen itu bisa mencapai 260 ton, kalau dirupiahkan bisa Rp 6 miliar, kata dia.
Hal serupa juga disampaikan pemilik warung apung, Muh. Samsir. Dirinya mengaku batas waktu pengosingan terkesan mendadak, sebab saat ini belum ada lokasi pengganti apabila warung apung harus dibongkar. Ia meminta pemerintah ikut menyiapkan lokasi sementara.
Kalau dibongkar terus mau ditaruh dimana, lah wong plaza kulinernya juga belum bisa ditempati. Padahal bongkar warung apung juga butuh banyak, pungkasnya.
