Pungutan Retribusi Rowo Jombor Jadi Polemik, Bupati Angkat Bicara
Wisata

Pungutan Retribusi Rowo Jombor Jadi Polemik, Bupati Angkat Bicara

Bayat,(klaten.sorot.co)--Pungutan retribusi untuk masuk area Rowo Jombor selama libur Lebaran 2019 kemarin mendadak viral di media sosial (medsos). Hal itu disebabkan lantaran banyak warga yang mengeluh karena tetap ditarik retribusi oleh penjaga portal meski hanya sekedar lewat.

Selama libur Lebaran atau saat memasuki Tradisi Syawalan, tarif retribusi Rowo Jombor dinaikkan menjadi Rp 5.000 per orang. Sementara pada hari biasa, retribusi hanya Rp 2.500 per orang. Kondisi itu lantas menjadi sorotan banyak pihak lantaran penerapannya dianggap kurang tepat.

Menanggapi hal itu, Bupati Klaten, Sri Mulyano mengakui bahwa kenaikan tarif retribusi selama Lebaran memang sudah dilakukan sejak lama. Selama menaikkan tarif, Pemkab Klaten telah melakukan MoU dengan Pemprov Jateng tentang pemanfaatan daerah tujuan wisata.

Itu dipungutnya (saat naik) hanya saat Lebaran saja, apabila pada hari biasa ya kembali normal Rp 2.500 per orang. Jadi itu sebenarnya sudah rutin kita lakukan,” kata dia saat menghadiri Festival Gethek di Rowo Jombor, Selasa (11/06).

Meski sudah menjadi kegiatan tahunan. Namun hal itu seringkali menjadi polemik dan berbincangan hangat di media sosial. Apalagi lagi, masyarakat mengeluh karena penerapan penarikan retribusi tersebut kurang tepat. Tak sedikit yang hanya sekedar melintas namun juga ditarik retribusi. 

Untuk kedepan kami masih akan rapatkan dulu (apakah terus dilanjut atau tidak). Nanti kita kaji, biar pak Asisten dan Sekda yang memanggil Dinas Pariwisata serta pihak ketiga selaku pengelola,” ujarnya.

Sementara itu, Kabid Pariwisata, Dinas Pariwisata Kebudayaan Pemuda dan Olahraga Klaten, Ety Pusparini penarikan retribusi dan ketentuan tariff didasari dengan Perda No.19 tahun 2011 tentang Retribusi Jasa Usaha. Sehingga kenaikan tarif tersebut adalah resmi dari Pemkab Klaten.

Hanya saja dalam pelaksanaannya, lanjut Rini, dilakukan oleh pihak ketiga yang dalam hal ini memberdayakan masyarakat Desa Krakitan, Kecamatan Bayat, atau masyarakat yang paham dengan lingkungan Rowo Jombor. Ia memastikan retribusi itu hanya berlaku untuk yang hendak berwisata.

Untuk warga setempat yang melintas ya tidak ditarik. Dan juga jika ada warga dari luar namun hendak berkunjung di rumah warga setempat juga tidak bayar, namun dengan catatan bisa menunjukkan rumah siapa yang akan dituju,” urai dia.

Kedepan, pihaknya akan segera melakukan evaluasi atas penerapan retribusi itu. Ia berharap kejadian itu tidak terus menjadikan polemik. Sebab saat ini tarif retribusi sudah kembali normal senilai Rp 2.500. Masyarakat yang hanya sekedar melintas tak perlu membayar retribusi.