Stunting Berisiko Sebabkan Kemiskinan, Klaten Mulai Fokus Tangani
Sosial

Stunting Berisiko Sebabkan Kemiskinan, Klaten Mulai Fokus Tangani

Klaten,(klaten.sorot.co)--Permasalahan stunting atau kekerdilan pada anak berisiko menjadi penyumbang angka kemiskinan di masa depan. Hal itu disampaikan oleh petugas Kementerian Kesehatan, Dahlan Choiron saat menghadiri acara Rembug Stunting di Aula Pemkab Klaten, Selasa (13/08/2019).

Menurut Dahlan, hasil riset yang sudah dilakukan menyatakan bahwa anak korban stunting kebanyakan tidak lulus SD maupun SMP, dan menjadi keluarga miskin pada kemudian harinya. Hal itu disebabkan lantaran mengalami gagal tumbuh kembang pada otak hingga mengakibatkan tubuh kerdil.

Saya belum lama ini menguji. Ambil data kasus stunting di salah satu lokasi yang terjadi pada 1994. Setelah diteliti perkembangan mereka 20 tahun kemudian diketahui banyak yang tidak lulus sekolah, ujarnya, Selasa siang.

Akibatnya, lanjut Dahlan, mereka sulit mengakses pekerjaan yang lebih baik di masa mendatang hingga berdampak pada tingkat pendapatan yang rendah. Sehingga hal itu menjadikan angka kemiskinan disuatu daerah menjadi semakin tinggi. Termasuk tingkat pendidikan yang dicapai oleh para anak- anak. 

Menurutnya, persoalan stunting harus ditangani secara kovergensi mencakup empat wilayah, yakni mendapat akses air bersih, akses layanan kesehatan, akses pemenuhan makanan bergizi, dan akses pola asuh yang baik. Keempat wilayah tersebut perlu mendapat dukungan dari pemerintah daerah.

Kasus stunting dapat ditekan. Tapi butuh perhatian yang serius, karena penyebab utamanya adalah pola gizi pada anak, itu yang perlu digencarkan agar masyarakat paham, jelasnya.

Sementara itu, Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Setda Klaten, Ronny Roekminto menjelaskan di Kabupaten Klaten ada ribuan kasus stunting. Dirinya menegaskan sudah meminta petugas Dinas Kesehatan turun ke lokasi untuk memantau kondisi mereka, termasuk melakukan pendataan.

Cek kondisinya dan lakukan intervensi yang baik dari pemerintah. Kalau belum ada asuransi kesehatan, bantu dengan BPJS. Jika belum bekerja dinas terkait melakukan pelatihan dan penyaluran pekerjaan. Dan mendata jumlah pastinya berapa, kata dia.