<p>Sidang Gugatan Warga Terdampak Jalan Tol di Klaten Mulai Digelar</p>
Hukum & Kriminal

Sidang Gugatan Warga Terdampak Jalan Tol di Klaten Mulai Digelar

Klaten,(klaten.sorot.co)-- Pengadilan Negeri (PN) Kelas 1A Klaten mulai menggelar sidang perkara gugatan yang dilayangkan sejumlah warga terdampak jalan tol Yogya- Solo pada, Senin (22/11/2021). Agenda sidang perdana adalah pemanggilan pihak pemohon maupun termohon dan pembacaan gugatan permohonan.

Pihak termohon dalam perkara ini adalah Badan Pertanahan Nasional (BPN) Klaten serta tim appraisal. Dalam sidang perdana ini, majelis hakim PN Klaten bekerja secara maraton, ada tiga majelis hakim yang menangani gugatan warga yang menolak uang ganti rugi (UGR) pembebasan lahan jalan tol Yogya-Solo.

"Khusus majelis saya ada 8 (sidang), sekarang sedang berlangsung ada 7, mungkin masih ada satu majelis lagi sekitar 6-7. Dengan agenda sidang pemanggilan para pihak," ujar Humas PN Klaten, Rudi Ananta Wijaya.

Puluhan warga yang mengajukan gugatan ke PN Klaten ini merupakan warga terdampak jalan tol Yogya-Solo di Desa Manjungan, Kecamatan Ngawen. Sedikitnya ada 25 warga Desa Manjungan yang mengajukan gugatan karena merasa keberatan dengan nominal atau nilai UGR yang disodorekan dari tim appraisal. 

"Para pihak tadi hadir, termohon 1 dan 2 juga hadir. Kita bacakan gugatan permohonannya, dan dari gugatan permohonannya mereka tetap menyatakan pada dalilnya," imbuh dia.

Pihaknya menjelaskan agenda sidang berikutnya akan digelar pada Kamis (25/11/2021) mendatang. Adapun agenda sidang selanjutnya adalah memberikan kesempatan jawaban kepada pihak termohon 1 dan 2. Pihaknya mengakui dalam sidang perkara sengketa tanah perdana kali ini berjalan lancar dan kondusif.

Salah seorang penggugat di PN Klaten, Aryo Wibowo mengaku terpaksa mengajukan gugatan karena belum bisa menerima nilai UGR yang diberikan. Sebab, rata-rata hasil penilaian dari tim appraisal di Manjungan adalah Rp1,3 juta per meter untuk tanah dan Rp 1,7 juta per meter untuk bangunan.

"Total luasan yang terdampak jalan tol milik saya sekitar 430 meter dengan total nilai UGR Rp 1,2 miliar. Padahal diatas lahan saya itu ada dua bangunan," jelasnya.

Aryo merasa keberatan dengan nominal UGR yang disodorkan karena banyak pertimbangan. Yang pertama adalah nilai ganti rugi untuk bangunan jauh lebih murah dibanding dengan biaya saat ia mendirikan rumahnya. Sebab dari dua bangunan yang terdampak tersebut, nilainya hanya sekitar Rp 290 juta.

"Padahal bapak saya kemarin bangun rumah yang satunya itu habis Rp 300 juta, nah ini dua bangunan kalau dihitung tidak sampai Rp 300 juta. Saya sebetulnya tidak ingin muluk- muluk, tapi ya mohon pemerintah bisa memperhatikan nasib kedepan," pungkasnya.