Protes Retribusi Naik, Pedagang Pasar Tanjung Juwiring Sepakat Tak Jualan
Peristiwa

Protes Retribusi Naik, Pedagang Pasar Tanjung Juwiring Sepakat Tak Jualan

Juwiring,(klaten.sorot.co)--Pedagang di Pasar Tanjung, Kecamatan Juwiring mogok berjualan pada, Senin (17/01/2022). Aksi itu dilakukan sebagai wujud protes atas kenaikan retribusi kepada pedagang menyusul ditetapkannya klasifikasi Pasar Tanjung dari kelas II menjadi Kelas I atau tipe A. 

Berdasarkan pantauan di lokasi, pemandangan berbeda terlihat di Pasar Tanjung sejak Senin pagi. Pasar yang biasanya ramai itu kini nampak sepi dari akitivitas pedagang maupun pembeli. Semua kios- kios pasar bagian luar yang berada di tepi jalan serta los- los yang berada di dalam juga tutup. 

Tutupnya sehari ini saja. Kalau saya tetap jualan karena saya tidak di dalam pasar, hanya jualan di depan pinggir jalan. Saya sebentar lagi juga tutup, karena memang sepi, ujar salah satu pedagang yang enggan disebutkan namanya, Senin pagi. 

Ketua Paguyuban Pedagang di Pasar Tanjung, Danang Sujadmiko mengatakan aksi yang dilakukan para pedagang ini tindak lanjut dari adanya informasi kenaikan retribusi kepada pedagang baik yang menempati kios maupun los. Pedagang keberatan karena kenaikan lebih dari 100 persen.  

Mulai saat ini retribusi untuk yang jualan di los sekitar Rp67.500 per bulan, kalau punya dua los ya nilai itu dikali dua. Sedangkan dulu kan pakai karcis, paling cuma bayar Rp2.000 - Rp3.000 per hari, imbuhnya. 

Sedangkan untuk retribusi kios, lanjut Danang, juga mengalami kenaikan siginifikan. Dari yang biasanya sekitar Rp35.000 per bulan, kini naik menjadi sekitar Rp90.000 per bulan untuk kios yang ada di tepi jalan utama. Rinciannya adalah dihitung Rp10.000 per meter, sedangkan ukuran kios kisaran 3X3 meter. 

Yang menjadi keberatan lainnya adalah mulai saat ini pedagang yang jualan atau libur ya tetap bayar retribusi segitu. Kalau dulu kan yang tidak jualan ya tidak bayar, kata dia. 

Danang mengaku sebelum aksi mogok berjualan ini dilakukan, pedagang sudah mencoba untuk berdiskusi dan memohon diberi keringanan. Sebab, ketentuan ini sudah mulai diberlakukan pada awal 2022 ini dan para pedagang harus sudah mulai membayar reteibusi teraebut pada akhir Januari. 

Sebetulnya Jumat sudah mohon keringanan ke Lurah Pasar, tapi karena ini kebijakan sesuai Perda maka tidak bisa memberi keputusan. Pedagang inginnya datang ke Disdagkop, tapi yang kesana Lurah Pasar. Akhirnya hari ini pedagang sepakat tutup, jelasnya. 

Danang berharap klasifikasi Pasar Tanjung tetap menjadi kelas II, dengan begitu retribusi tidak perlu naik. Namun apabila kebijakan ini tetap dijalankan, para pedagang akan mencoba mediasi dan curhat dengan DPRD Klaten. Surat permohonan mediasi sudah dilayangkan ke DPRD sebelumnya.