Klaten Marak Sepeda Motor Berknalpot Brong, Siap- siap Ditindak Tegas
Peristiwa

Klaten Marak Sepeda Motor Berknalpot Brong, Siap- siap Ditindak Tegas

Klaten,(klaten.sorot.co)--Keberadaan sepeda motor berknalpot brong atau tidak standar mulai marak di Kabupaten Klaten. Bahkan dalam kurun waktu dua bulan terakhir ini, Satlantas Polres Klaten telah menindak sedikitnya 578 unit sepeda motor berknalpot brong dari berbagai wilayah kabupaten bersinar.

Hal itu disampaikan Wakapolres Klaten, Kompol Sumiarta. Pihaknya menjelaskan sepeda motor berknalpot brong cukup menjadi perhatian akhir- akhir ini karena meresahkan dan mengganggu kenyamanan masyarakat. Sebagian besar pengendara sepeda motor itu adalah kalangan anak muda dan pelajar.

"Kita amankan pada Mei- Juli 2022 sudah 578 unit sepeda motor yang knalpot tidak standar. Kita gencarkan penindakan," ujarnya, Jumat (05/08/2022).

Lebih lanjut disampaikan, proses penindakan dilakukan dengan cara hunting sistem oleh aparat polisi di jalan. Pengendara yang kedapatan memakai knalpot brong langsung ditindak. Pengendara diberi sanksi berupa tilang, sedangkan semua sepeda motornya dimankan ke Mapolres Klaten. 

"Kita tilang, setelah membayar denda, motor bisa diambil. Tapi pada saat mengambil wajib mengganti knaplot yang standar dan ditandai dengan membuat surat pernyataan," urai dia.

Pihaknya menegaskan penggunaan knalpot brong sangat dilarang. Sebab hal itu melanggar Pasal 285 ayat (1) Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan Raya. Disitu disebutkan pelanggar aturan lalulintas diancam hukuman 1 bulan kurangan atau denda Rp250 ribu.

"Knalpot brong ini sering bikin keributan. Tentu juga membuat tidak nyaman pengguna jalan dan masyarakat," imbuhnya.

Sementara itu Kasatlantas Polres Klaten, AKP Sugiyanto mengakui dari ratusan kendaraan itu sebagian besar dikendarai anak muda, bahkan ada juga yang pelajar. Namun biasanya tidak dikendarai saat kegiatan sekolah, melainkan pada saat mereka nongkrong atau berkumpul dengan teman- temannya.

"Dipakainya bukan untuk sekolah, tapi diluar itu. Mungkin ini menjadi tren anak muda, suaranya kencang dianggapnya larinya lebih kencang. Padahal tidak sesuai standar," pungkasnya.