Legenda Cangkang Sumpil yang Tumpul di Umbul Jolotundo
Karanganom,(klaten.sorot.co)--Umbul Jolotundo merupakan obyek wisata air di Desa Jambeyan, Kecamatan Karanganom. Namun dibalik kesegaran sumber mata air Jolotundo, ternyata terdapat legenda turun temurun yang hingga kini masih belum diketahui banyak orang.
Di sekitar Jolotundo, banyak ditemukan sumpil atau hewan sejenis siput yang hidup di dasar air. Namun anehnya, sumpil di sekitaran Jolotundo berbeda dengan jenis sumpil di desa- desa lainnya. Sebab cangkang sumpil di area sumber mata air Jolotundo tidak lancip, melainkan tumpul.
Sumpil di kawasan sini tidak ada yang lancip, tapi pepes atau tumpul. Cangkangnya berbeda, dan semua sumpil disini juga seperti itu, ujar Sekdes Jambeyan, Kecamatan Karanganom, Tri Rukun Widodo, Sabtu (19/06/2021).
Rukun mengungkapkan fenomena cangkang sumpil yang tumpul itu tak lepas dari legenda di Umbul Jolotundo sejak zaman dahulu sampai sekarang. Berdasarkan cerita turun temurun, Umbul Jolotundo sudah ada sejak lama. Bahkan sumber mata airnya kerap dijadikan untuk bertapa. 
Kalau keberadaan umbul ini sejak kapan saya kurang tahu, yang jelas sudah lama sekali sejak zaman kerajaan. Dan dulu terkenal dijadikan sebagai tempat bertapa, imbuhnya.
Konon, di Umbul Jolotundo kerap dikunjungi oleh salah seorang pertapa. Seorang pertapa itu memiliki putri bernama Roro Amis. Setiap saat, seorang pertapa dan Roro Amis sering kali mandi di Umbul Jolotundo. Legenda tumpulnya cangkang sumpil bermula dari Roro Amis.
Kala itu, Roro Amis sedang mandi di Umbul Jolotundo menggunakan getek yang terbuat dari gedebok pisang. Tak lama kemudian, tiba- tiba Roro Amis terjatuh hingga kakinya berdarah karena tertancap cangkang sumpil yang lancip. Akibatnya, Roro Amis sakit dan nyawanya tak tertolong.
Sumpilnya itu nancep di kaki, nah setelah dicabut ternyata Roro Amis tidak tertolong. Akhirnya seorang pertapa itu mengutuk bahwa sumpil disini tumpul, dan itu masih terjadi sampai sekarang, kata Rukun.
Rukun mengungkapkan cangkang sumpil yang tumpul itu hanya ditemukan di sekitaran Umbul Jolotundo. Selain fenomena cangkang sumpil, pisang juga merupakan salah satu pohon yang pantang ditanam di sekitar Umbul Jolotundo. Kepercayaan itu juga masih terjaga hingga sekarang.
Pohon pisang juga tidak boleh ditanam di sini. Bisa dilihat di Dukuh Mao dan Birinan tidak ada pohon pisang. Warga percaya kalau nekat menanam pisang akan terjadi petaka, jelasnya.
Sampai saat ini, legenda yang terjadi di Umbul Jolotundo masih dipercayai masyarakat. Namun dibalik itu, sumber mata air Jolotundo tetap menjadi salah satu primadona di Klaten. Airnya yang jernih karena asli dari sumber itu kerap dikunjungi warga sekitar bahkan dari luar daerah.
Saya malah baru dengar legenda itu. Tapi kalau saya pribadi sih percaya, karena setiap tempat pasti ada ceritanya. Yang penting niat saya kesini tidak jelek, kalau mandi ya mandi. Di belakang juga bisa mancing, kata salah satu pengunjung, Aris (26).
